Apa yang lebih membahagiakan dari sebuah kehidupan adalah ketika
kita dapat menyesap rasa nikmat dari secangkir kopi hangat ditambah sebatang
rokok. Cukup sederhana sekali, walaupun banyak orang berpendapat dua jenis
barang tersebut mempunyai resiko yang cukup berat untuk kesehatan kita. Perduli
setan, itulah kenikmatan hakiki tanpa harus pusing memikirkan kesehatan apalagi
biaya rumah sakit yang mahal.
Bagi seorang pemusik atau yang hanya sekedar menjadi
penikmat musik, tentunya sebuah kenikmatan apabila kita bisa mendengarkan alunan
karya musisi kesukaan kita dan atau bahkan bisa menonton konser musik mereka. Terlebih
apabila kita pun bisa menyanyikan beberapa tembang hits musisi jagoan kita, dan
lalu kita bisa membentuk sebuah band yang dapat menyanyikan belasan lagu dari
grup musik idola kita tersebut. Uh betapa nikmat hidup ini.
Esensi dasar seni musik adalah suara, dari situlah kita bisa
menangkap sensasi kenikmatan dari beragam macam aransemen yang diciptakan yang
masuk melalui telinga sebagai indra pendengaran kita. Lalu bagaimana dengan
mereka yang mempunyai kekurangan atau gangguan pada indra pendengaran ini dapat
merasa seperti kita, ajojing dan jejingkrakan melalui irama-irama musik yang
asik tanpa gangguan sedikitpun pada telinga kita. Tentunya mereka tidak
seberuntung kita bukan ?. Karena kita dapat dengan leluasa goyang-goyang kepala sewaktu
mendengarkan musik yang kita sukai, tanpa ada gangguan sedikitpun pada pendengaran kita.....bersyukurlah !!
Adalah Mirantie Boreel, salah seorang Gitaris+Vokalis dari sebuah
band Independent beraliran Grunge, begitulah dia mengidentifikasi musiknya. Siapa
sangka Miranti mempunyai gangguan pada telinganya sedari balita hingga dewasa
seperti sekarang ini. Bagaimana mungkin seorang frontwoman sebuah band mempunyai
gangguan pendengaran, karena musik adalah sebuah bentuk seni yang dapat
dinikmati melalui indra pendengaran kita. bagaimana dia menciptakan lagu-lagu untuk band-nya, dan
apa jadinya musik yang dia ciptakan mengingat Mirantie memiliki gangguan pada pendengarannya.
Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang mungkin mampir di
benak kita, atau mungkin kita memang tidak pernah tahu bahwa Mirantie mempunyai
gangguan pendengaran. Lalu dengan cara apa dia bisa menikmati music bahkan bisa
membentuk sebuah band dan menghasilkan karya dalam bandnya tersebut. Segala macam
teori untuk menjawab itu akan banyak sekali, dari kecurigaan bahwa Mirantie
berpura-pura untuk mencari simpatik, sampai berpikir dia bisa mendengarkan musik
lewat hidung, sah –sah saja kita menafsirkannya.
Semangat dan cinta mungkin itulah jawabannya. Ya sebuah semangat
dan kecintaan akan music itu sendiri yang akhirnya membawa Miranti pada level
seperti sekarang ini. Memiliki band dan tetap menghasilkan karya. Bukan berarti
dia tidak mempunyai kendala dengan itu, bahkan untuk komunikasi saja terkadang
sulit bagi saya untuk menjelaskan sesuatu dengan detail. Tetapi sebagai seorang
frontwomen dia diharuskan menjadi leader band-nya dan juga memiliki tanggung jawab
untuk memberikan sebuah warna pada band-nya tersebut. Dan dia mampu melakukan
itu semua. Setidaknya itulah yang saya tangkap darinya.
Sebetulnya saya tidak ingin menulis panjang lebar tentang kekurangan
Mirantie karena saya tidak ingin membawa tulisan ini menjadi sebuah tulisan
yang penuh dengan cerita sedih, NO. Saya tahu persis Mirantie adalah sosok yang
sangat gigih dan bukan orang yang
cengeng terhadap kehidupan. Itu terbukti dia telah menghasilkan sebuah full
album 12 track penuh bernuansa Grunge di tahun 2012 ini, dan akan disusul oleh
beberapa album berikutnya kedepan. Dalam keterbatasannya dia mampu menjawab keraguan pada
dirinya sendiri.
Pernah terucap bahwa dia tidak ingin meneruskan kembali
kegiatan bermusiknya karena disinyalir pendengarannya semakin bertambah parah
dan volume yang diterima semakin menurun levelnya, tetapi saya terus
menyemangati. Saya hanya berkata biarkan itu tetap ada dalam dirimu dan biarkan
saja menghilang dengan sendirinya bila waktunya nanti tiba, sekarang
berkaryalah sejauh apa yang kamu bisa.
Bagi saya Mirantie hanyalah sebuah contoh kecil yang
kebetulan ada dalam Scene Grunge Indonesia. Sosok nyata di komunitas Grunge
Indonesia yang menjadi pelajaran bagi diri saya sendiri untuk tidak mudah mengeluh
dan menyerah dalam kehidupan, sekeras apapun itu, akan saya hadapi.
Grunge ….ya grunge sepertinya sebuah kata yang unik selain
sebagai sebuah genre musik itu sendiri. Grunge yang telah mengantarkan Mirantie
dan saya bertemu, dan grunge pulalah yang telah membawa kami untuk bersama-sama
bekerja menghasilkan karya-karya terbaik kami.
Selain aktif bermusik, hingga saat ini Mirantie aktif
mengajar di sebuah Yayasan Tuna Rungu di kota Bandung. Dimana biasanya dia memberikan pengajaran dan pengalaman kepada
orang-orang yang memiliki keterbatasan yang sama dengan dirinya.
Sebagai informasi Mirantie memiliki gangguan pendengaran sejak balita yang mengakibatkan dia tidak dapat mendeteksi suara dengan sempurna dalam level rendah misal percakapan, tetapi dia dapat mendeteksi suara dalam level tertentu seperti musik melalui earphone dan diatas stage dalam volume tertentu.
Sebagai informasi Mirantie memiliki gangguan pendengaran sejak balita yang mengakibatkan dia tidak dapat mendeteksi suara dengan sempurna dalam level rendah misal percakapan, tetapi dia dapat mendeteksi suara dalam level tertentu seperti musik melalui earphone dan diatas stage dalam volume tertentu.
Always Support Your Local Movement !!!
klik link dibawah untuk melihat karya-karya Mushafear.
Penulis adalah founder Drexter Records sebuah indi label
kecil-kecilan yang merupakan tempat bernaung band Mushafear dimana Mirantie dan
kawan-kawan berkarya.
Semoga Grunge tetap eksis seperti dulu kala. Semoga sukse. Mohon beri komentar pada tulisanku yang ini ya.- Grunge, Pearl Jam, Masa dulu dan kini
BalasHapus