Pearl Jam…yap the last one
seattle hero, kalo boleh dibilang begitu. Dengan tetap eksisnya Pearl Jam
hingga sekarang adalah sebuah harapan kalo musik dari ranah Seattle itu masih
terus bisa hidup dan berkembang, walaupun apa yang mereka yakini di era 90-an
lalu tidak serta merta mereka bawa hingga sekarang. Semangat rock n roll lah
yang menjadi penguat PJ hingga bisa mencapai apa yang mereka inginkan hingga saat
ini.
Pearl Jam bukan hanya milik Kota
Seattle saja, PJ sudah menjadi milik dunia tidak terkecuali Indonesia. Di
setiap Negara PJ memiliki basis masa yang sangat kuat. Ini terbukti di setiap
konsernya PJ selalu memanjakan Fans PJ terlebih bila mereka sebagai anggota
Fans Club PJ, karena biasanya mereka akan dapat perlakuan khusus seperti
mengantri di tiket box khusus fansclub PJ dan masuk terlebih dahulu ke venue
pertunjukan mereka. Sesuatu yang asik bukan menjadi anggota dari Fans Club PJ.
Bagaimana dengan Indonesia. Ya
Indonesia sendiri sudah mempunyai fans club PJ, dengan nama PJID atau Pearl Jam
Indonesia. Kalo mau liat seberapa besar dan solidnya mereka kita bisa lihat
dari apa yang mereka lakukan pada screening PJ20 lalu di epicentrum Jakarta.
Betapa tidak dengan susah payah PJID berhasil menayangkan preview documenter
dari PJ besutan Cameron Crowe yang diambil
dari berbagai cuplikan tentang perjalanan karir PJ selama ini.
Konon preview ini ditayangkan
secara terbatas hanya beberapa kota di Amerika dan beberapa Negara saja yang
diberi kesempatan untuk menayangkan preview tersebut, waw eksklusif bukan. Nah
Indonesia sendiri menurut informasi bukan salah satu tujuan pemutaran preview
tersebut , entah kenapa. Disinilah peran PJID jelas terlihat, sebuah karya
militansi yang yahud dari para punggawa PJID. Dengan segala daya upaya mereka
akhirnya bisa mendatangkan Master preview tersebut ke Indonesia dan ditayangkan
bersamaan tepat pada tanggal 20 dan serentak. Sebuah kesempatan luar biasa bagi
para pecinta PJ di Indonesia terlebih bagi PJID itu sendiri, karena jerih payah
dan pengorbanan mereka membuahkan hasil yang sangat signifikan. Dari celoteh
tetangga katanya PJID benar benar collect money for this, artinya mereka tidak
tinggal diam untuk menggalang dana guna membawa master tersebut, karena
harganya muahal bgt bhow. Selamat untuk PJID.
Sejurus kemudian apa yang menjadi
angan-angan para pecinta PJ di Indonesia adalah hadirnya sosok kang Eddie dan
kawan-kawan di Negara kita ini, ya konser PJ itu sendiri. Sebuah keinginan dari
hati yang paling dalam, 20 tahun penikmat music PJ di Indonesia dengan setia
mengikuti semua berita dan tentunya music yang mereka ciptakan, selama itu pula
PJ belum berkesempatan berkunjung dan konser di Indonesia. Bukan hal yang
mustahil karena toh pengemar PJ di Indonesia memang cukup banyak.
Dari sekian banyaknya
konser-konser yang pernah berlangsung di Indonesia mungkin band-band dari ranah
Seattle Sound lah yang belum diberi kesempatan melakukan konser tunggal di
Indonesia. Dulu pernah ada serombongan band dari USA yang manggung di Indonesia
yaitu, Foo fighter, Sonic Youth, dan lain-lain dalam acara MTV Alternative
Nations, tetapi itu tidak cukup guna menyalurkan dahaga para pecinta music
grunge di tanah air. PJ menjadi satu-satunya harapan akan dahaga tersebut
karena Nirvana sudah tidak mungkin hadir disini, sedih sekali rasanya penggemar
Nirvana tanah air dengan kenyataan pahit ini.
Well konser PJ harus terjadi
disini, setidaknya itulah yang menjadi perbincangan hangat diantara sesama penggemar
PJ, tidak terkecuali PJID yang merupakan basis fans club di Indonesia. Banyak
pertanyaan dalam benak mereka, dari masalah kenapa PJ belum juga mau hadir
disini padahal mereka pernah datang ke Singapura yang jelas-jelas tinggal naik
fery nyebrang dikit ke Indonesia, malah tidak mereka lakukan. Apa dan kenapa
dalam rentang waktu yang sudah cukup lama ini PJ tidak juga singgah di
Indonesia. Ada sebuah pernyataan khusus yang dilontarkan salah satu anggota
PJID pada perhelatan PJN6 beberapa waktu lalu di bandung, bahwa mereka yakin PJ akan datang
di 2012, sebuah pernyataan yang memompa optimisme tinggi dan tentu saja sebuah
doa yang mudah-mudahan akan terkabulkan, Amin.
Di sisi yang berbeda ada beberapa
perbincangan di sudut ruang yang lain tentang kenapa PJ ini tidak juga hadir
disini. “… payah nih gak ada promotor yang berani bayarin PJ buat maen
disini…”, “…PJ gak tau ada Negara Indonesia, mereka taunya Bali adalah sebuah
pulau yang asik buat surfing….” ( karena mas Eddie Vedder katanya doyan
nyurping) “…PJ terlalu mahal, promotor ogah rugi kalo yang datang nti dikit…”, dan bla..bla..bla..celoteh
penuh prediksi terlontar begitu saja dari mulut penggemar PJ.
Bagaimana dengan saya ? ya
sayapun larut dalam obrolan ringan dan tentunya ikut sok-sokan berprediksi. Mungkin
memang iya tidak ada atau belum ada promotor yang berani untuk mendatangkan PJ
ke Indonesia. Mungkin iya PJ teramat mahal untuk didatangkan, dan lebih sadis
mungkin jangan-jangan PJ gak tau ada Negara yang bernama
Indonesia…hahahahay…guyon Oom.
Tapi celoteh bodoh saya pada
perbincangan tersebut adalah begini : “ iya emang gak ada kali promotor yang
berani datangin PJ ke Indonesia, mungkin dari budget yang dikeluarkan takutnya
tuh budget nggak balik lagi, alias merugi mas “ kata saya. Karena promotor
music menurut saya bukan lah semacam Pundi Amal SCTV mereka merupakan pebisnis
kelas kakap yang melihat potensi bisnis ketimbang hal lainnya.
Tapi penggemar PJ banyak lho di
Indonesia ini, dari remaja , STW, ampe yang tua juga ada. “ Bapakku dan Oom-ku
juga penggemar PJ dari 10 tahun lalu “ kata mas-mas berjaket hijau di sebrang
saya. Hmmm nah iya ya….penggemar PJ ini sebenernya banyak juga ternyata kalo
diitung itung. Nah tetapi kenapa para promotor itu tidak juga kunjung meniupkan
angin segar bagi para penggemar PJ ini.
Lalu saya ngoceh tolol lagi
disitu. Mungkin anggaran dana yang harus dikeluarkan emang gede banget, dan
dari dana tersebut tentunya modal harus balik kalo tidak untung sama sekali,
minimal gak nombok lah. Dengan jumlah penggemar yang banyak ini tentunya
ketakutan akan kerugian itu harusnya tidak terjadi. Toh Negara kita yang sangat
luas ini dan dihuni oleh 200juta lebih penduduk tentunya akan mampu memenuhi
kuota guna menutupi dana mendatangakn PJ disini.
Tetapi apakah jumlah penggemar
yang besar itu sudah terdeteksi sebagai potensial buyer, jangan-jangan dari 200
pennggemar yang mampu beli tiket seharga 300 rebu hanya 50 orang saja. Kalo
misalkan itu terjadi ya bisa dipastikan tuh promotor tekor Bandar hehhheehe.
Lalu PJID sendiri yang notabene
adalah basis fans club Indonesia apakah sudah benar-benar menjadi tolok ukur
penggemar PJ disini, menurut saya belum. Karena saya yakin banyak penggemar PJ
lainnnya yang tidak masuk PJID atau malah mungkin tidak mengerti apa itu PJID
karena sibuk jualan ayam di pasar ( PJ milik semua orang dan kuping tukang potong
ayam gak selalu identik dengan ayu ting ting ).
Daya beli. Ya ini lah pemikiran
tolol saya kenapa PJ belum juga hadir disini. Popularitas PJ belum bisa
meyakinkan promotor untuk menghadirkannya karena mungkin penngemar PJ yang
besar ini tersebar dari golongan yang mempunyai daya beli dan tidak mempunyai
daya beli. Selembar tiket dengan harga 300 – 1 juta rupiah merupakan nilai yang
tidak sedikit. Bagi yang mempunyai daya beli nilai segitu mungkin tidak menjadi
masalah dibandingkan dengan asiknya nonton PJ dan melihat wajah akang Eddie dan
Oom Gossard, tetapi bagi mereka yang tidak punya daya beli, ini hanya akan
menambah beban perasaan saja. Duh akang Eddie kapan kowe balik ( dengan harga
miring tentunya ).
Sebuah prediksi pesimistis dari
saya memang, mungkin promotor belum mau juga mendatangkan PJ kesini karena
disinyalir bahwa banyak penggemar PJ ini yang tidak memiliki daya beli,
alih-alih beli tiket bagaimana kalo nanti terjadi kerusuhan karena banyaknya
penngemar yang nyeruduk masuk hanya dengan bawa modal 20rebu saja plus nasi
bungkus yang dibawa jauh-jauh dari majalengka. Promotor akan boncos, cos, cos.
Si pesimistis ini memang bukan
orang yang enak untuk didengar, terbukti kawan – kawan yang penggemar PJ berat
itu satu persatu mulai ngeloyor dan mengalihkan pembicaraan, Haks !. dan sambil
ngeloyor kawan satu itu bilang “ kalo udah fans berat mau kata apapun gue
korbanin demi beli tiket PJ ”.
Well, saya sependapat denganmu
bung, saya pun akan melakukan hal yang sama dengan Anda yaitu menabung dan mengurangi
jatah rokok saya untuk tabungan nanti kalo beli tiket PJ. Tapi bagaimana dengan
si Kodir yang tiap hari makan aja susah tapi PJ in the blood, artinya penggemar
berat PJ sampe-sampe ngaku-ngaku kalo nama depannya itu adalah Edi.
Tapi konser Linkin Park kemaren
tuh gak rugi kok, sahut yang lain. Padahal tiketnya lumayan mahal dan yang datang
banyak tuh, ampe artis-artis datang semua. Malah untung katanya. Oh yeah
??????? iya mungkin, barangkali, bisa saja. Tetapi apakah mereka yang hadir
disana adalah benar-benar penggemar Linkin Park ? mungkin mereka hanya tau satu
atau dua hits doangan. Atau mereka adalah orang-orang kebanyakan duit yang
nonton konser menjadi parameter sebuah label dari kesuksesan, atau nonton
konser apapun adalah sebuah keharusan karena menghibur diri dan ajang sosialita
semata. Dan pajangan foto-foto di fesbuk waktu nonton konser adalah sebuah
eksistensi dari Mr. Euphoria watching something is cool…bla..bla…bla..bla….
Haks…” bintang sebotol ” !! kata saya kepada bartender di bar pada
perhelatan Pearl Jam Night 6 di Bandung beberapa waktu lalu, yang diselenggarakan di sebuah Hotel di
bandung. Sambil menikmati band-band mengcover semua lagu pearl Jam saya pun
menenggak Bir dengan pikiran yang menggelayut entah kemana. “ ini bill-nya mas
” …setan 91 rebu. “ Kenapa lu gak bilang nih bir harganya segitu, gue bisa
minum 2 pitcher dengan harga segitu kalo di jalan Jaksa….”. Maaf mas, ini hotel
bukan café pinggir jalan, katanya. Ohh iya saya lupa, sambil nyengir kuda…wkw
wkw wkw wkw.
Well, teruntuk Kang Eddie Vedder
mungkin juga orang-orang yang mengaku dirinya penggemar berat Pearl jam saya
sangat mendukung kehadiran PJ disini, sebuah kesempatan emas bagi anak negri
untuk melihat performance musisi Grunge kelas wahid di Indonesia. Nikmatilah
kesempatan itu bila waktunya tiba dan rayakanlah segala bentuk euphoria itu
bila memang sudah saatnya. Dan sedikit cerita tentang si Kodir biarkan menjadi
wacana yang berbeda dan lepas dari kehangatan alunan Kang Eddie yang menyeruak
di relung jiwa para PJ maniak……..ohhhhhhh… aaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiii…ooooooooo aim
stil elaif….!!!!!! Welcome PJ in Indonesia the country that I love….
“ Tulisan ini saya dedikasikan
kepada Kang Maman sahabat saya dibandung sebagai pengkoleksi Kaset metal, yang
bekerja sehari-hari sebagai tukang sampah dilingkungan Gang mesjid Cicadas
Bandung “ (jimo)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar