Rabu, 28 Maret 2012

..Pearl Jam datang….Untuk siapa ?


Pearl Jam…yap the last one seattle hero, kalo boleh dibilang begitu. Dengan tetap eksisnya Pearl Jam hingga sekarang adalah sebuah harapan kalo musik dari ranah Seattle itu masih terus bisa hidup dan berkembang, walaupun apa yang mereka yakini di era 90-an lalu tidak serta merta mereka bawa hingga sekarang. Semangat rock n roll lah yang menjadi penguat PJ hingga bisa mencapai apa yang mereka inginkan hingga saat ini.

Pearl Jam bukan hanya milik Kota Seattle saja, PJ sudah menjadi milik dunia tidak terkecuali Indonesia. Di setiap Negara PJ memiliki basis masa yang sangat kuat. Ini terbukti di setiap konsernya PJ selalu memanjakan Fans PJ terlebih bila mereka sebagai anggota Fans Club PJ, karena biasanya mereka akan dapat perlakuan khusus seperti mengantri di tiket box khusus fansclub PJ dan masuk terlebih dahulu ke venue pertunjukan mereka. Sesuatu yang asik bukan menjadi anggota dari Fans Club PJ.

Bagaimana dengan Indonesia. Ya Indonesia sendiri sudah mempunyai fans club PJ, dengan nama PJID atau Pearl Jam Indonesia. Kalo mau liat seberapa besar dan solidnya mereka kita bisa lihat dari apa yang mereka lakukan pada screening PJ20 lalu di epicentrum Jakarta. Betapa tidak dengan susah payah PJID berhasil menayangkan preview documenter dari PJ besutan Cameron Crowe yang diambil  dari berbagai cuplikan tentang perjalanan karir PJ selama ini.

Konon preview ini ditayangkan secara terbatas hanya beberapa kota di Amerika dan beberapa Negara saja yang diberi kesempatan untuk menayangkan preview tersebut, waw eksklusif bukan. Nah Indonesia sendiri menurut informasi bukan salah satu tujuan pemutaran preview tersebut , entah kenapa. Disinilah peran PJID jelas terlihat, sebuah karya militansi yang yahud dari para punggawa PJID. Dengan segala daya upaya mereka akhirnya bisa mendatangkan Master preview tersebut ke Indonesia dan ditayangkan bersamaan tepat pada tanggal 20 dan serentak. Sebuah kesempatan luar biasa bagi para pecinta PJ di Indonesia terlebih bagi PJID itu sendiri, karena jerih payah dan pengorbanan mereka membuahkan hasil yang sangat signifikan. Dari celoteh tetangga katanya PJID benar benar collect money for this, artinya mereka tidak tinggal diam untuk menggalang dana guna membawa master tersebut, karena harganya muahal bgt bhow. Selamat untuk PJID.

Sejurus kemudian apa yang menjadi angan-angan para pecinta PJ di Indonesia adalah hadirnya sosok kang Eddie dan kawan-kawan di Negara kita ini, ya konser PJ itu sendiri. Sebuah keinginan dari hati yang paling dalam, 20 tahun penikmat music PJ di Indonesia dengan setia mengikuti semua berita dan tentunya music yang mereka ciptakan, selama itu pula PJ belum berkesempatan berkunjung dan konser di Indonesia. Bukan hal yang mustahil karena toh pengemar PJ di Indonesia memang cukup banyak.



Dari sekian banyaknya konser-konser yang pernah berlangsung di Indonesia mungkin band-band dari ranah Seattle Sound lah yang belum diberi kesempatan melakukan konser tunggal di Indonesia. Dulu pernah ada serombongan band dari USA yang manggung di Indonesia yaitu, Foo fighter, Sonic Youth, dan lain-lain dalam acara MTV Alternative Nations, tetapi itu tidak cukup guna menyalurkan dahaga para pecinta music grunge di tanah air. PJ menjadi satu-satunya harapan akan dahaga tersebut karena Nirvana sudah tidak mungkin hadir disini, sedih sekali rasanya penggemar Nirvana tanah air dengan kenyataan pahit ini.

Well konser PJ harus terjadi disini, setidaknya itulah yang menjadi perbincangan hangat diantara sesama penggemar PJ, tidak terkecuali PJID yang merupakan basis fans club di Indonesia. Banyak pertanyaan dalam benak mereka, dari masalah kenapa PJ belum juga mau hadir disini padahal mereka pernah datang ke Singapura yang jelas-jelas tinggal naik fery nyebrang dikit ke Indonesia, malah tidak mereka lakukan. Apa dan kenapa dalam rentang waktu yang sudah cukup lama ini PJ tidak juga singgah di Indonesia. Ada sebuah pernyataan khusus yang dilontarkan salah satu anggota PJID pada perhelatan PJN6 beberapa waktu lalu  di bandung, bahwa mereka yakin PJ akan datang di 2012, sebuah pernyataan yang memompa optimisme tinggi dan tentu saja sebuah doa yang mudah-mudahan akan terkabulkan, Amin.

Di sisi yang berbeda ada beberapa perbincangan di sudut ruang yang lain tentang kenapa PJ ini tidak juga hadir disini. “… payah nih gak ada promotor yang berani bayarin PJ buat maen disini…”, “…PJ gak tau ada Negara Indonesia, mereka taunya Bali adalah sebuah pulau yang asik buat surfing….” ( karena mas Eddie Vedder katanya doyan nyurping) “…PJ terlalu mahal, promotor ogah rugi kalo yang  datang nti dikit…”, dan bla..bla..bla..celoteh penuh prediksi terlontar begitu saja dari mulut penggemar PJ.

Bagaimana dengan saya ? ya sayapun larut dalam obrolan ringan dan tentunya ikut sok-sokan berprediksi. Mungkin memang iya tidak ada atau belum ada promotor yang berani untuk mendatangkan PJ ke Indonesia. Mungkin iya PJ teramat mahal untuk didatangkan, dan lebih sadis mungkin jangan-jangan PJ gak tau ada Negara yang bernama Indonesia…hahahahay…guyon Oom.

Tapi celoteh bodoh saya pada perbincangan tersebut adalah begini : “ iya emang gak ada kali promotor yang berani datangin PJ ke Indonesia, mungkin dari budget yang dikeluarkan takutnya tuh budget nggak balik lagi, alias merugi mas “ kata saya. Karena promotor music menurut saya bukan lah semacam Pundi Amal SCTV mereka merupakan pebisnis kelas kakap yang melihat potensi bisnis ketimbang hal lainnya.

Tapi penggemar PJ banyak lho di Indonesia ini, dari remaja , STW, ampe yang tua juga ada. “ Bapakku dan Oom-ku juga penggemar PJ dari 10 tahun lalu “ kata mas-mas berjaket hijau di sebrang saya. Hmmm nah iya ya….penggemar PJ ini sebenernya banyak juga ternyata kalo diitung itung. Nah tetapi kenapa para promotor itu tidak juga kunjung meniupkan angin segar bagi para penggemar PJ ini.

Lalu saya ngoceh tolol lagi disitu. Mungkin anggaran dana yang harus dikeluarkan emang gede banget, dan dari dana tersebut tentunya modal harus balik kalo tidak untung sama sekali, minimal gak nombok lah. Dengan jumlah penggemar yang banyak ini tentunya ketakutan akan kerugian itu harusnya tidak terjadi. Toh Negara kita yang sangat luas ini dan dihuni oleh 200juta lebih penduduk tentunya akan mampu memenuhi kuota guna menutupi dana mendatangakn PJ disini.

Tetapi apakah jumlah penggemar yang besar itu sudah terdeteksi sebagai potensial buyer, jangan-jangan dari 200 pennggemar yang mampu beli tiket seharga 300 rebu hanya 50 orang saja. Kalo misalkan itu terjadi ya bisa dipastikan tuh promotor tekor Bandar hehhheehe.

Lalu PJID sendiri yang notabene adalah basis fans club Indonesia apakah sudah benar-benar menjadi tolok ukur penggemar PJ disini, menurut saya belum. Karena saya yakin banyak penggemar PJ lainnnya yang tidak masuk PJID atau malah mungkin tidak mengerti apa itu PJID karena sibuk jualan ayam di pasar ( PJ milik semua orang dan kuping tukang potong ayam gak selalu identik dengan ayu ting ting ). 

Daya beli. Ya ini lah pemikiran tolol saya kenapa PJ belum juga hadir disini. Popularitas PJ belum bisa meyakinkan promotor untuk menghadirkannya karena mungkin penngemar PJ yang besar ini tersebar dari golongan yang mempunyai daya beli dan tidak mempunyai daya beli. Selembar tiket dengan harga 300 – 1 juta rupiah merupakan nilai yang tidak sedikit. Bagi yang mempunyai daya beli nilai segitu mungkin tidak menjadi masalah dibandingkan dengan asiknya nonton PJ dan melihat wajah akang Eddie dan Oom Gossard, tetapi bagi mereka yang tidak punya daya beli, ini hanya akan menambah beban perasaan saja. Duh akang Eddie kapan kowe balik ( dengan harga miring tentunya ).

Sebuah prediksi pesimistis dari saya memang, mungkin promotor belum mau juga mendatangkan PJ kesini karena disinyalir bahwa banyak penggemar PJ ini yang tidak memiliki daya beli, alih-alih beli tiket bagaimana kalo nanti terjadi kerusuhan karena banyaknya penngemar yang nyeruduk masuk hanya dengan bawa modal 20rebu saja plus nasi bungkus yang dibawa jauh-jauh dari majalengka. Promotor akan boncos, cos, cos.

Si pesimistis ini memang bukan orang yang enak untuk didengar, terbukti kawan – kawan yang penggemar PJ berat itu satu persatu mulai ngeloyor dan mengalihkan pembicaraan, Haks !. dan sambil ngeloyor kawan satu itu bilang “ kalo udah fans berat mau kata apapun gue korbanin demi beli tiket PJ ”.

Well, saya sependapat denganmu bung, saya pun akan melakukan hal yang sama dengan Anda yaitu menabung dan mengurangi jatah rokok saya untuk tabungan nanti kalo beli tiket PJ. Tapi bagaimana dengan si Kodir yang tiap hari makan aja susah tapi PJ in the blood, artinya penggemar berat PJ sampe-sampe ngaku-ngaku kalo nama depannya itu adalah Edi.



Tapi konser Linkin Park kemaren tuh gak rugi kok, sahut yang lain. Padahal tiketnya lumayan mahal dan yang datang banyak tuh, ampe artis-artis datang semua. Malah untung katanya. Oh yeah ??????? iya mungkin, barangkali, bisa saja. Tetapi apakah mereka yang hadir disana adalah benar-benar penggemar Linkin Park ? mungkin mereka hanya tau satu atau dua hits doangan. Atau mereka adalah orang-orang kebanyakan duit yang nonton konser menjadi parameter sebuah label dari kesuksesan, atau nonton konser apapun adalah sebuah keharusan karena menghibur diri dan ajang sosialita semata. Dan pajangan foto-foto di fesbuk waktu nonton konser adalah sebuah eksistensi dari Mr. Euphoria watching something is cool…bla..bla…bla..bla….

Haks…” bintang sebotol ” !!  kata saya kepada bartender di bar pada perhelatan Pearl Jam Night 6 di Bandung beberapa waktu lalu, yang diselenggarakan di sebuah Hotel di bandung. Sambil menikmati band-band mengcover semua lagu pearl Jam saya pun menenggak Bir dengan pikiran yang menggelayut entah kemana. “ ini bill-nya mas ” …setan 91 rebu. “ Kenapa lu gak bilang nih bir harganya segitu, gue bisa minum 2 pitcher dengan harga segitu kalo di jalan Jaksa….”. Maaf mas, ini hotel bukan café pinggir jalan, katanya. Ohh iya saya lupa, sambil nyengir kuda…wkw wkw wkw wkw.

Well, teruntuk Kang Eddie Vedder mungkin juga orang-orang yang mengaku dirinya penggemar berat Pearl jam saya sangat mendukung kehadiran PJ disini, sebuah kesempatan emas bagi anak negri untuk melihat performance musisi Grunge kelas wahid di Indonesia. Nikmatilah kesempatan itu bila waktunya tiba dan rayakanlah segala bentuk euphoria itu bila memang sudah saatnya. Dan sedikit cerita tentang si Kodir biarkan menjadi wacana yang berbeda dan lepas dari kehangatan alunan Kang Eddie yang menyeruak di relung jiwa para PJ maniak……..ohhhhhhh… aaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiii…ooooooooo aim stil elaif….!!!!!! Welcome PJ in Indonesia the country that I love….

“ Tulisan ini saya dedikasikan kepada Kang Maman sahabat saya dibandung sebagai pengkoleksi Kaset metal, yang bekerja sehari-hari sebagai tukang sampah dilingkungan Gang mesjid Cicadas Bandung “ (jimo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar