Selasa, 24 April 2012

IN MEMORIAM KURT COBAIN


18 tahun sudah kurt meninggalkan jagad raya ini, dan selama 20 tahun ini karyanya masih dikenang dan tetap dikagumi hingga sekarang.


Kurt Donald Cobain, ya dialah si jenius yang pernah hidup di masa keemasan music alternative di era 90-an. Dia bersama Nirvana adalah sebuah tonggak perubahan dalam dunia musik global, music rock yang tadinya banyak dihiasi lagu-lagu cinta yang dikemas dengan sedikit keras serta dandanan centil  sedikit demi sedikit mulai berubah. Nirvana berandil memberikan peluang kepada banyak band untuk ikut dalam gerbong perubahan tersebut, yang akhirnya ini meracuni industri musik secara global.

Era alternative rock Berjaya selama kurang lebih 10 tahun, dan gaungnya masih sangat terasa hingga sekarang. Seattle Sounds adalah gerbong paling depan dalam jalur alternative, tidak bisa dipungkiri gerombolan musisi dari Seattle sebagai sebuah kota yang menjelma menjadi semacam sebuah Community yang melahirkan banyak sekali band-band yang pada akhirnya di sahkan secara global sebagai Grunge.


Ok, selesai lah kita bicara tentang apa itu Grunge, Nirvana, atau pun juga Seattle Sounds, literasi atau tulisan tentang itu banyak berserakan di dunia nyata dan juga dunia maya, bisa dibaca kapan saja. Sekarang mari kita sedikit berbicara tentang seorang sosok unik di balik gelombang besar revolusi music 90-an, ya dia adalah Kurt Cobain.

Seorang yang berangkat dari kota kecil di pinggiran Washington – USA menjelma menjadi seorang legenda musik dunia yang disejajarkan dengan legenda musik dunia lainnya. Cukup mengherankan bukan, seorang anak muda yang hanya mengeluarkan 4 buah album resmi, ratusan footage dan single dapat bersanding dengan musisi hebat lainnya semacam Jimi Hendrix, Jim Morison dan bahkan John Lennon.


Bila bukan karena kematian kontroversialnya, apalagi yang bisa membuat dia dapat bersanding sejajar dalam panggung legenda musisi wahid dunia, tidak lain dan tidak bukan karena karyanya yang mutakhir dan racikan musiknya yang sangat keren. Ya karya, inilah satu-satunya yang membuat Kurt harum hingga sekarang, bukan aksi panggungnya yang sering menghancurkan instrument, bukan pula kehidupannya yang penuh lika liku, atau bahkan kematian sensasional yang teorinya masih terus saja dikutak katik hingga sekarang.

Kurt Cobain sangat lihai meracik komposisi yang disuguhkan bersama rekan-rekan di Nirvana yang tanpa diduga musiknya menjadi semacam bom atom yang tersimpan lama di kubangan lumpur di belahan Seattle sana. Sekali meledak, imbasnya jauh kemana-mana, bahkan sampai ke Citeureup sebuah wilayah kecil di pinggiran kota Bogor Indonesia.

Karya unik nan ciamik  yang lahir dari sosok seorang Kurt Cobain ternyata tidak hadir begitu saja. Proses karyanya cukup panjang, dari hanya seringnya dia mendengarkan lagu-lagu yang diputar di tape mobil ayahnya hingga menjadi seorang crew dari band The Melvins. Lagu yang didengarkan sangat beragam jenisnya, rock n roll, heavy metal, punk rock sampai pop mendayu, dia hajar semua sebagai proses ke tahap penciptaan karyanya kelak.


Simak “Smells Like Teen Spirit” dan “Drain You”, menurut saya banyak musisi yang terhenyak…”sial..kenapa sih gak kepikiran bikin rif yang beginian” atau “ Sialan nih si Kurt, bikin musik simple tapi catchy gini sih” yah mungkin itulah pemikiran yang barangkali  ada diantara rekan sesama musisi disana. Bagaimana tidak band anak bawang yang tadinya hanya sebuah band kecil tak mempunyai pengalaman malah menjadi band paling kesohor di seantero jagad raya, bahkan disinyalir banyak musisi dari Seattle sana yang cemburu, padahal apa yang mau dicemburui ya, lha wong karyanya keren, ya sudah barang tentu jadi kesohor, nah lho hehehee.


Tidak dipungkiri banyak juga yang mencoba rumus ala Kurt dalam proses penciptaanya, tapi ya kalo bukan disebut nirvanais ya rumusnya malah gagal berantakan, atau bahkan tidak enak sama sekali. Nirvana dan Kurt adalah sebuah bentuk original yang sangat unik, tidak bisa ditandingi kalo mau bikin yang lain kayak Korn gitu atau Limb Bizkit gitu hehehe.

Nirvana atau Grunge bukanlah sebuah roots seperti layaknya Jazz atau Rock n Roll, dia berdiri sendiri sebagai sebuah subgenre yang lahir dari genre besar tersebut. Karena hal itulah tidak sedikit band atau musisi yang mau bikin lagu dimirip-miripkan dengan Nirvana malah terkesan jadi memble dan butut acakadut gak bermutu, dan ya tidak menjadi apa-apa selain menjadi band yang termakan industry itu sendiri dikarenakan ingin ngetop dan berjaya layaknya Kurt dan Nirvana. Dan farahnya (pake F) musisi indi juga berebutan pake formula musik Nirvana, ya sama juga gak jadi apa-apa, kalo tidak mau disebut tidak inovatif, padahal Kurt sangat inovatif karena berhasil mengemas musik campuran dari punk hingga pop, terbukti kan.


Satu hal yang menjadi perhatian saya adalah, suara khas Kurt Cobain. Ya Kurt mempunyai suara yang sangat bagus, ngepop merdu dan serak-serak gimana gitu, bikin gemes deh. Suaranya yang khas ini menjadi sebuah kesan tersendiri yang tidak bisa disamakan dengan band-band alternative lainnya. Sebut saja Eddie Vedder dari Pearl Jam, mempunyai suara yang mengambil teknik vibrato yang sudah umum, contoh populernya ya itu kan mirip-mirip suaranya Jim Morisson. 


Nah berikutnya band-band lainnya mencoba hal yang sama dengan pola vokalisasi di area yang sama ( baca : mengikuti pola nyanyi Jim Morisson). Stone Temple Pilots, Collective Soul, Candle Box, pake rumus Eddie Vedder, coba sebut Band mana yang pake teknik vocal Kurt Cobain yang cukup ngetop, nyaris tidak ada kan kan ? mungkin Silver Chair yang cukup berhasil tapi kalo diperhatikan sih malah Daniel Johns pake dua teknik Eddie dan Kurt jadi ya cukup inovatif juga, nah Silver Chair sukses akhirnya dalam teori inovatif tersebut.

So, jadi menurut pemahaman pribadi saya Kurt adalah manusia unik yang mempunyai itikad yang dipacu dengan semangat dan cita rasa seni yang tinggi, hingga akhirnya menghasilkan musik yang sensasional. Dia bukan Dewa atau Tuhan, dia tetaplah manusia biasa seperti kita semua, hanya energi dan semangatnya untuk menciptakan karya inovatif yang membuatnya berbeda, disini bisa dikatakan dia adalah orang yang serius memikirkan musiknya.

Baju lecek, menghancurkan gitar dan bahkan cerita penggunaan heroin tidak lebih semacam bumbu penyedap masakan yang dihidangkan Kurt dan Nirvana, selebihnya adalah karya yang bermutu, unik, ajib, ciamik, asoy, dan lain sebagainya yang mengantarkan Kurt dan Nirvana ke posisi tinggi musik dunia hingga sekarang ini.


Kurt Cobain mengakhiri hidupnya pada tanggal 5 April 1994, akhir yang ironis dan tentu saja sebuah cerita maha sedap yang terus menggelayut tak bertepi hingga saat ini. Ratusan teori yang dihidangkan tentang kontroversi kematiannya masih hangat hingga sekarang. Bagi kita yang hidup di belahan dunia yang lain dari tempat hidup Kurt Cobain di Amerika sana, lebih bijak kiranya kita mengenang Kurt sebagai manusia biasa dengan karya yang luar biasa yang mungkin bisa kita serap intisari dari proses berkarya yang pernah dia lakukan. Satu hal yang menjadikan Kurt berbeda adalah karya-nya yang unik, dan itu bukan dibuat secara kebetulan, ada proses, niat dan kerja keras disana.

Come As you areAs you wereAs I want you to be As a friend …

Senin, 02 April 2012

GRUNGE HAS RAISE YOU UP !!! sebuah catatan kecil untuk Mirantie Boreel ( Vokalis+Gitaris Mushafear - sebuah band grunge indi Indonesia)


Apa yang lebih membahagiakan dari sebuah kehidupan adalah ketika kita dapat menyesap rasa nikmat dari secangkir kopi hangat ditambah sebatang rokok. Cukup sederhana sekali, walaupun banyak orang berpendapat dua jenis barang tersebut mempunyai resiko yang cukup berat untuk kesehatan kita. Perduli setan, itulah kenikmatan hakiki tanpa harus pusing memikirkan kesehatan apalagi biaya rumah sakit yang mahal.

Bagi seorang pemusik atau yang hanya sekedar menjadi penikmat musik, tentunya sebuah kenikmatan apabila kita bisa mendengarkan alunan karya musisi kesukaan kita dan atau bahkan bisa menonton konser musik mereka. Terlebih apabila kita pun bisa menyanyikan beberapa tembang hits musisi jagoan kita, dan lalu kita bisa membentuk sebuah band yang dapat menyanyikan belasan lagu dari grup musik idola kita tersebut. Uh betapa nikmat hidup ini.

Esensi dasar seni musik adalah suara, dari situlah kita bisa menangkap sensasi kenikmatan dari beragam macam aransemen yang diciptakan yang masuk melalui telinga sebagai indra pendengaran kita. Lalu bagaimana dengan mereka yang mempunyai kekurangan atau gangguan pada indra pendengaran ini dapat merasa seperti kita, ajojing dan jejingkrakan melalui irama-irama musik yang asik tanpa gangguan sedikitpun pada telinga kita. Tentunya mereka tidak seberuntung kita bukan ?. Karena kita dapat dengan leluasa goyang-goyang kepala sewaktu mendengarkan musik yang kita sukai, tanpa ada gangguan sedikitpun pada pendengaran kita.....bersyukurlah !!

Adalah Mirantie Boreel, salah seorang Gitaris+Vokalis dari sebuah band Independent beraliran Grunge, begitulah dia mengidentifikasi musiknya. Siapa sangka Miranti mempunyai gangguan pada telinganya sedari balita hingga dewasa seperti sekarang ini. Bagaimana mungkin seorang frontwoman sebuah band mempunyai gangguan pendengaran, karena musik adalah sebuah bentuk seni yang dapat dinikmati melalui indra pendengaran kita. bagaimana  dia menciptakan lagu-lagu untuk band-nya, dan apa jadinya musik yang dia ciptakan mengingat Mirantie memiliki gangguan pada pendengarannya.


Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang mungkin mampir di benak kita, atau mungkin kita memang tidak pernah tahu bahwa Mirantie mempunyai gangguan pendengaran. Lalu dengan cara apa dia bisa menikmati music bahkan bisa membentuk sebuah band dan menghasilkan karya dalam bandnya tersebut. Segala macam teori untuk menjawab itu akan banyak sekali, dari kecurigaan bahwa Mirantie berpura-pura untuk mencari simpatik, sampai berpikir dia bisa mendengarkan musik lewat hidung, sah –sah saja kita menafsirkannya.

Semangat dan cinta mungkin itulah jawabannya. Ya sebuah semangat dan kecintaan akan music itu sendiri yang akhirnya membawa Miranti pada level seperti sekarang ini. Memiliki band dan tetap menghasilkan karya. Bukan berarti dia tidak mempunyai kendala dengan itu, bahkan untuk komunikasi saja terkadang sulit bagi saya untuk menjelaskan sesuatu dengan detail. Tetapi sebagai seorang frontwomen dia diharuskan menjadi leader band-nya dan juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan sebuah warna pada band-nya tersebut. Dan dia mampu melakukan itu semua. Setidaknya itulah yang saya tangkap darinya.

Sebetulnya saya tidak ingin menulis panjang lebar tentang kekurangan Mirantie karena saya tidak ingin membawa tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang penuh dengan cerita sedih, NO. Saya tahu persis Mirantie adalah sosok yang sangat gigih  dan bukan orang yang cengeng terhadap kehidupan. Itu terbukti dia telah menghasilkan sebuah full album 12 track penuh bernuansa Grunge di tahun 2012 ini, dan akan disusul oleh beberapa album berikutnya kedepan. Dalam keterbatasannya dia mampu menjawab keraguan pada dirinya sendiri.

Pernah terucap bahwa dia tidak ingin meneruskan kembali kegiatan bermusiknya karena disinyalir pendengarannya semakin bertambah parah dan volume yang diterima semakin menurun levelnya, tetapi saya terus menyemangati. Saya hanya berkata biarkan itu tetap ada dalam dirimu dan biarkan saja menghilang dengan sendirinya bila waktunya nanti tiba, sekarang berkaryalah sejauh apa yang kamu bisa.

Bagi saya Mirantie hanyalah sebuah contoh kecil yang kebetulan ada dalam Scene Grunge Indonesia. Sosok nyata di komunitas Grunge Indonesia yang menjadi pelajaran bagi diri saya sendiri untuk tidak mudah mengeluh dan menyerah dalam kehidupan, sekeras apapun itu, akan saya hadapi.

Grunge ….ya grunge sepertinya sebuah kata yang unik selain sebagai sebuah genre musik itu sendiri. Grunge yang telah mengantarkan Mirantie dan saya bertemu, dan grunge pulalah yang telah membawa kami untuk bersama-sama bekerja menghasilkan karya-karya terbaik kami.

Selain aktif bermusik, hingga saat ini Mirantie aktif mengajar di sebuah Yayasan Tuna Rungu di kota Bandung. Dimana biasanya dia  memberikan pengajaran dan pengalaman kepada orang-orang yang memiliki keterbatasan yang sama dengan dirinya.

Sebagai informasi Mirantie memiliki gangguan pendengaran sejak balita yang mengakibatkan dia tidak dapat mendeteksi suara dengan sempurna dalam level rendah misal percakapan, tetapi dia dapat mendeteksi suara dalam level tertentu seperti musik melalui earphone dan diatas stage dalam volume tertentu. 

Always Support Your Local Movement !!!
klik link dibawah untuk melihat karya-karya Mushafear.

Penulis adalah founder Drexter Records sebuah indi label kecil-kecilan yang merupakan tempat bernaung band Mushafear dimana Mirantie dan kawan-kawan berkarya.

Rabu, 28 Maret 2012

..Pearl Jam datang….Untuk siapa ?


Pearl Jam…yap the last one seattle hero, kalo boleh dibilang begitu. Dengan tetap eksisnya Pearl Jam hingga sekarang adalah sebuah harapan kalo musik dari ranah Seattle itu masih terus bisa hidup dan berkembang, walaupun apa yang mereka yakini di era 90-an lalu tidak serta merta mereka bawa hingga sekarang. Semangat rock n roll lah yang menjadi penguat PJ hingga bisa mencapai apa yang mereka inginkan hingga saat ini.

Pearl Jam bukan hanya milik Kota Seattle saja, PJ sudah menjadi milik dunia tidak terkecuali Indonesia. Di setiap Negara PJ memiliki basis masa yang sangat kuat. Ini terbukti di setiap konsernya PJ selalu memanjakan Fans PJ terlebih bila mereka sebagai anggota Fans Club PJ, karena biasanya mereka akan dapat perlakuan khusus seperti mengantri di tiket box khusus fansclub PJ dan masuk terlebih dahulu ke venue pertunjukan mereka. Sesuatu yang asik bukan menjadi anggota dari Fans Club PJ.

Bagaimana dengan Indonesia. Ya Indonesia sendiri sudah mempunyai fans club PJ, dengan nama PJID atau Pearl Jam Indonesia. Kalo mau liat seberapa besar dan solidnya mereka kita bisa lihat dari apa yang mereka lakukan pada screening PJ20 lalu di epicentrum Jakarta. Betapa tidak dengan susah payah PJID berhasil menayangkan preview documenter dari PJ besutan Cameron Crowe yang diambil  dari berbagai cuplikan tentang perjalanan karir PJ selama ini.

Konon preview ini ditayangkan secara terbatas hanya beberapa kota di Amerika dan beberapa Negara saja yang diberi kesempatan untuk menayangkan preview tersebut, waw eksklusif bukan. Nah Indonesia sendiri menurut informasi bukan salah satu tujuan pemutaran preview tersebut , entah kenapa. Disinilah peran PJID jelas terlihat, sebuah karya militansi yang yahud dari para punggawa PJID. Dengan segala daya upaya mereka akhirnya bisa mendatangkan Master preview tersebut ke Indonesia dan ditayangkan bersamaan tepat pada tanggal 20 dan serentak. Sebuah kesempatan luar biasa bagi para pecinta PJ di Indonesia terlebih bagi PJID itu sendiri, karena jerih payah dan pengorbanan mereka membuahkan hasil yang sangat signifikan. Dari celoteh tetangga katanya PJID benar benar collect money for this, artinya mereka tidak tinggal diam untuk menggalang dana guna membawa master tersebut, karena harganya muahal bgt bhow. Selamat untuk PJID.

Sejurus kemudian apa yang menjadi angan-angan para pecinta PJ di Indonesia adalah hadirnya sosok kang Eddie dan kawan-kawan di Negara kita ini, ya konser PJ itu sendiri. Sebuah keinginan dari hati yang paling dalam, 20 tahun penikmat music PJ di Indonesia dengan setia mengikuti semua berita dan tentunya music yang mereka ciptakan, selama itu pula PJ belum berkesempatan berkunjung dan konser di Indonesia. Bukan hal yang mustahil karena toh pengemar PJ di Indonesia memang cukup banyak.



Dari sekian banyaknya konser-konser yang pernah berlangsung di Indonesia mungkin band-band dari ranah Seattle Sound lah yang belum diberi kesempatan melakukan konser tunggal di Indonesia. Dulu pernah ada serombongan band dari USA yang manggung di Indonesia yaitu, Foo fighter, Sonic Youth, dan lain-lain dalam acara MTV Alternative Nations, tetapi itu tidak cukup guna menyalurkan dahaga para pecinta music grunge di tanah air. PJ menjadi satu-satunya harapan akan dahaga tersebut karena Nirvana sudah tidak mungkin hadir disini, sedih sekali rasanya penggemar Nirvana tanah air dengan kenyataan pahit ini.

Well konser PJ harus terjadi disini, setidaknya itulah yang menjadi perbincangan hangat diantara sesama penggemar PJ, tidak terkecuali PJID yang merupakan basis fans club di Indonesia. Banyak pertanyaan dalam benak mereka, dari masalah kenapa PJ belum juga mau hadir disini padahal mereka pernah datang ke Singapura yang jelas-jelas tinggal naik fery nyebrang dikit ke Indonesia, malah tidak mereka lakukan. Apa dan kenapa dalam rentang waktu yang sudah cukup lama ini PJ tidak juga singgah di Indonesia. Ada sebuah pernyataan khusus yang dilontarkan salah satu anggota PJID pada perhelatan PJN6 beberapa waktu lalu  di bandung, bahwa mereka yakin PJ akan datang di 2012, sebuah pernyataan yang memompa optimisme tinggi dan tentu saja sebuah doa yang mudah-mudahan akan terkabulkan, Amin.

Di sisi yang berbeda ada beberapa perbincangan di sudut ruang yang lain tentang kenapa PJ ini tidak juga hadir disini. “… payah nih gak ada promotor yang berani bayarin PJ buat maen disini…”, “…PJ gak tau ada Negara Indonesia, mereka taunya Bali adalah sebuah pulau yang asik buat surfing….” ( karena mas Eddie Vedder katanya doyan nyurping) “…PJ terlalu mahal, promotor ogah rugi kalo yang  datang nti dikit…”, dan bla..bla..bla..celoteh penuh prediksi terlontar begitu saja dari mulut penggemar PJ.

Bagaimana dengan saya ? ya sayapun larut dalam obrolan ringan dan tentunya ikut sok-sokan berprediksi. Mungkin memang iya tidak ada atau belum ada promotor yang berani untuk mendatangkan PJ ke Indonesia. Mungkin iya PJ teramat mahal untuk didatangkan, dan lebih sadis mungkin jangan-jangan PJ gak tau ada Negara yang bernama Indonesia…hahahahay…guyon Oom.

Tapi celoteh bodoh saya pada perbincangan tersebut adalah begini : “ iya emang gak ada kali promotor yang berani datangin PJ ke Indonesia, mungkin dari budget yang dikeluarkan takutnya tuh budget nggak balik lagi, alias merugi mas “ kata saya. Karena promotor music menurut saya bukan lah semacam Pundi Amal SCTV mereka merupakan pebisnis kelas kakap yang melihat potensi bisnis ketimbang hal lainnya.

Tapi penggemar PJ banyak lho di Indonesia ini, dari remaja , STW, ampe yang tua juga ada. “ Bapakku dan Oom-ku juga penggemar PJ dari 10 tahun lalu “ kata mas-mas berjaket hijau di sebrang saya. Hmmm nah iya ya….penggemar PJ ini sebenernya banyak juga ternyata kalo diitung itung. Nah tetapi kenapa para promotor itu tidak juga kunjung meniupkan angin segar bagi para penggemar PJ ini.

Lalu saya ngoceh tolol lagi disitu. Mungkin anggaran dana yang harus dikeluarkan emang gede banget, dan dari dana tersebut tentunya modal harus balik kalo tidak untung sama sekali, minimal gak nombok lah. Dengan jumlah penggemar yang banyak ini tentunya ketakutan akan kerugian itu harusnya tidak terjadi. Toh Negara kita yang sangat luas ini dan dihuni oleh 200juta lebih penduduk tentunya akan mampu memenuhi kuota guna menutupi dana mendatangakn PJ disini.

Tetapi apakah jumlah penggemar yang besar itu sudah terdeteksi sebagai potensial buyer, jangan-jangan dari 200 pennggemar yang mampu beli tiket seharga 300 rebu hanya 50 orang saja. Kalo misalkan itu terjadi ya bisa dipastikan tuh promotor tekor Bandar hehhheehe.

Lalu PJID sendiri yang notabene adalah basis fans club Indonesia apakah sudah benar-benar menjadi tolok ukur penggemar PJ disini, menurut saya belum. Karena saya yakin banyak penggemar PJ lainnnya yang tidak masuk PJID atau malah mungkin tidak mengerti apa itu PJID karena sibuk jualan ayam di pasar ( PJ milik semua orang dan kuping tukang potong ayam gak selalu identik dengan ayu ting ting ). 

Daya beli. Ya ini lah pemikiran tolol saya kenapa PJ belum juga hadir disini. Popularitas PJ belum bisa meyakinkan promotor untuk menghadirkannya karena mungkin penngemar PJ yang besar ini tersebar dari golongan yang mempunyai daya beli dan tidak mempunyai daya beli. Selembar tiket dengan harga 300 – 1 juta rupiah merupakan nilai yang tidak sedikit. Bagi yang mempunyai daya beli nilai segitu mungkin tidak menjadi masalah dibandingkan dengan asiknya nonton PJ dan melihat wajah akang Eddie dan Oom Gossard, tetapi bagi mereka yang tidak punya daya beli, ini hanya akan menambah beban perasaan saja. Duh akang Eddie kapan kowe balik ( dengan harga miring tentunya ).

Sebuah prediksi pesimistis dari saya memang, mungkin promotor belum mau juga mendatangkan PJ kesini karena disinyalir bahwa banyak penggemar PJ ini yang tidak memiliki daya beli, alih-alih beli tiket bagaimana kalo nanti terjadi kerusuhan karena banyaknya penngemar yang nyeruduk masuk hanya dengan bawa modal 20rebu saja plus nasi bungkus yang dibawa jauh-jauh dari majalengka. Promotor akan boncos, cos, cos.

Si pesimistis ini memang bukan orang yang enak untuk didengar, terbukti kawan – kawan yang penggemar PJ berat itu satu persatu mulai ngeloyor dan mengalihkan pembicaraan, Haks !. dan sambil ngeloyor kawan satu itu bilang “ kalo udah fans berat mau kata apapun gue korbanin demi beli tiket PJ ”.

Well, saya sependapat denganmu bung, saya pun akan melakukan hal yang sama dengan Anda yaitu menabung dan mengurangi jatah rokok saya untuk tabungan nanti kalo beli tiket PJ. Tapi bagaimana dengan si Kodir yang tiap hari makan aja susah tapi PJ in the blood, artinya penggemar berat PJ sampe-sampe ngaku-ngaku kalo nama depannya itu adalah Edi.



Tapi konser Linkin Park kemaren tuh gak rugi kok, sahut yang lain. Padahal tiketnya lumayan mahal dan yang datang banyak tuh, ampe artis-artis datang semua. Malah untung katanya. Oh yeah ??????? iya mungkin, barangkali, bisa saja. Tetapi apakah mereka yang hadir disana adalah benar-benar penggemar Linkin Park ? mungkin mereka hanya tau satu atau dua hits doangan. Atau mereka adalah orang-orang kebanyakan duit yang nonton konser menjadi parameter sebuah label dari kesuksesan, atau nonton konser apapun adalah sebuah keharusan karena menghibur diri dan ajang sosialita semata. Dan pajangan foto-foto di fesbuk waktu nonton konser adalah sebuah eksistensi dari Mr. Euphoria watching something is cool…bla..bla…bla..bla….

Haks…” bintang sebotol ” !!  kata saya kepada bartender di bar pada perhelatan Pearl Jam Night 6 di Bandung beberapa waktu lalu, yang diselenggarakan di sebuah Hotel di bandung. Sambil menikmati band-band mengcover semua lagu pearl Jam saya pun menenggak Bir dengan pikiran yang menggelayut entah kemana. “ ini bill-nya mas ” …setan 91 rebu. “ Kenapa lu gak bilang nih bir harganya segitu, gue bisa minum 2 pitcher dengan harga segitu kalo di jalan Jaksa….”. Maaf mas, ini hotel bukan cafĂ© pinggir jalan, katanya. Ohh iya saya lupa, sambil nyengir kuda…wkw wkw wkw wkw.

Well, teruntuk Kang Eddie Vedder mungkin juga orang-orang yang mengaku dirinya penggemar berat Pearl jam saya sangat mendukung kehadiran PJ disini, sebuah kesempatan emas bagi anak negri untuk melihat performance musisi Grunge kelas wahid di Indonesia. Nikmatilah kesempatan itu bila waktunya tiba dan rayakanlah segala bentuk euphoria itu bila memang sudah saatnya. Dan sedikit cerita tentang si Kodir biarkan menjadi wacana yang berbeda dan lepas dari kehangatan alunan Kang Eddie yang menyeruak di relung jiwa para PJ maniak……..ohhhhhhh… aaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiii…ooooooooo aim stil elaif….!!!!!! Welcome PJ in Indonesia the country that I love….

“ Tulisan ini saya dedikasikan kepada Kang Maman sahabat saya dibandung sebagai pengkoleksi Kaset metal, yang bekerja sehari-hari sebagai tukang sampah dilingkungan Gang mesjid Cicadas Bandung “ (jimo)