Senin, 02 April 2012

GRUNGE HAS RAISE YOU UP !!! sebuah catatan kecil untuk Mirantie Boreel ( Vokalis+Gitaris Mushafear - sebuah band grunge indi Indonesia)


Apa yang lebih membahagiakan dari sebuah kehidupan adalah ketika kita dapat menyesap rasa nikmat dari secangkir kopi hangat ditambah sebatang rokok. Cukup sederhana sekali, walaupun banyak orang berpendapat dua jenis barang tersebut mempunyai resiko yang cukup berat untuk kesehatan kita. Perduli setan, itulah kenikmatan hakiki tanpa harus pusing memikirkan kesehatan apalagi biaya rumah sakit yang mahal.

Bagi seorang pemusik atau yang hanya sekedar menjadi penikmat musik, tentunya sebuah kenikmatan apabila kita bisa mendengarkan alunan karya musisi kesukaan kita dan atau bahkan bisa menonton konser musik mereka. Terlebih apabila kita pun bisa menyanyikan beberapa tembang hits musisi jagoan kita, dan lalu kita bisa membentuk sebuah band yang dapat menyanyikan belasan lagu dari grup musik idola kita tersebut. Uh betapa nikmat hidup ini.

Esensi dasar seni musik adalah suara, dari situlah kita bisa menangkap sensasi kenikmatan dari beragam macam aransemen yang diciptakan yang masuk melalui telinga sebagai indra pendengaran kita. Lalu bagaimana dengan mereka yang mempunyai kekurangan atau gangguan pada indra pendengaran ini dapat merasa seperti kita, ajojing dan jejingkrakan melalui irama-irama musik yang asik tanpa gangguan sedikitpun pada telinga kita. Tentunya mereka tidak seberuntung kita bukan ?. Karena kita dapat dengan leluasa goyang-goyang kepala sewaktu mendengarkan musik yang kita sukai, tanpa ada gangguan sedikitpun pada pendengaran kita.....bersyukurlah !!

Adalah Mirantie Boreel, salah seorang Gitaris+Vokalis dari sebuah band Independent beraliran Grunge, begitulah dia mengidentifikasi musiknya. Siapa sangka Miranti mempunyai gangguan pada telinganya sedari balita hingga dewasa seperti sekarang ini. Bagaimana mungkin seorang frontwoman sebuah band mempunyai gangguan pendengaran, karena musik adalah sebuah bentuk seni yang dapat dinikmati melalui indra pendengaran kita. bagaimana  dia menciptakan lagu-lagu untuk band-nya, dan apa jadinya musik yang dia ciptakan mengingat Mirantie memiliki gangguan pada pendengarannya.


Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang mungkin mampir di benak kita, atau mungkin kita memang tidak pernah tahu bahwa Mirantie mempunyai gangguan pendengaran. Lalu dengan cara apa dia bisa menikmati music bahkan bisa membentuk sebuah band dan menghasilkan karya dalam bandnya tersebut. Segala macam teori untuk menjawab itu akan banyak sekali, dari kecurigaan bahwa Mirantie berpura-pura untuk mencari simpatik, sampai berpikir dia bisa mendengarkan musik lewat hidung, sah –sah saja kita menafsirkannya.

Semangat dan cinta mungkin itulah jawabannya. Ya sebuah semangat dan kecintaan akan music itu sendiri yang akhirnya membawa Miranti pada level seperti sekarang ini. Memiliki band dan tetap menghasilkan karya. Bukan berarti dia tidak mempunyai kendala dengan itu, bahkan untuk komunikasi saja terkadang sulit bagi saya untuk menjelaskan sesuatu dengan detail. Tetapi sebagai seorang frontwomen dia diharuskan menjadi leader band-nya dan juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan sebuah warna pada band-nya tersebut. Dan dia mampu melakukan itu semua. Setidaknya itulah yang saya tangkap darinya.

Sebetulnya saya tidak ingin menulis panjang lebar tentang kekurangan Mirantie karena saya tidak ingin membawa tulisan ini menjadi sebuah tulisan yang penuh dengan cerita sedih, NO. Saya tahu persis Mirantie adalah sosok yang sangat gigih  dan bukan orang yang cengeng terhadap kehidupan. Itu terbukti dia telah menghasilkan sebuah full album 12 track penuh bernuansa Grunge di tahun 2012 ini, dan akan disusul oleh beberapa album berikutnya kedepan. Dalam keterbatasannya dia mampu menjawab keraguan pada dirinya sendiri.

Pernah terucap bahwa dia tidak ingin meneruskan kembali kegiatan bermusiknya karena disinyalir pendengarannya semakin bertambah parah dan volume yang diterima semakin menurun levelnya, tetapi saya terus menyemangati. Saya hanya berkata biarkan itu tetap ada dalam dirimu dan biarkan saja menghilang dengan sendirinya bila waktunya nanti tiba, sekarang berkaryalah sejauh apa yang kamu bisa.

Bagi saya Mirantie hanyalah sebuah contoh kecil yang kebetulan ada dalam Scene Grunge Indonesia. Sosok nyata di komunitas Grunge Indonesia yang menjadi pelajaran bagi diri saya sendiri untuk tidak mudah mengeluh dan menyerah dalam kehidupan, sekeras apapun itu, akan saya hadapi.

Grunge ….ya grunge sepertinya sebuah kata yang unik selain sebagai sebuah genre musik itu sendiri. Grunge yang telah mengantarkan Mirantie dan saya bertemu, dan grunge pulalah yang telah membawa kami untuk bersama-sama bekerja menghasilkan karya-karya terbaik kami.

Selain aktif bermusik, hingga saat ini Mirantie aktif mengajar di sebuah Yayasan Tuna Rungu di kota Bandung. Dimana biasanya dia  memberikan pengajaran dan pengalaman kepada orang-orang yang memiliki keterbatasan yang sama dengan dirinya.

Sebagai informasi Mirantie memiliki gangguan pendengaran sejak balita yang mengakibatkan dia tidak dapat mendeteksi suara dengan sempurna dalam level rendah misal percakapan, tetapi dia dapat mendeteksi suara dalam level tertentu seperti musik melalui earphone dan diatas stage dalam volume tertentu. 

Always Support Your Local Movement !!!
klik link dibawah untuk melihat karya-karya Mushafear.

Penulis adalah founder Drexter Records sebuah indi label kecil-kecilan yang merupakan tempat bernaung band Mushafear dimana Mirantie dan kawan-kawan berkarya.

1 komentar:

  1. Semoga Grunge tetap eksis seperti dulu kala. Semoga sukse. Mohon beri komentar pada tulisanku yang ini ya.- Grunge, Pearl Jam, Masa dulu dan kini

    BalasHapus